All posts by HimakaUnp4d

Senyawa Asam pada Kopi

Sani Dwiningrum – 140210150001

Kopi merupakan salah satu kekayaan alam yang terdapat di Indonesia.Penghasil kopi terbesar dan pengekspor yaitu Negara Brazil mulai dari tahun 1830. Kopi juga merupakan salah satu hasil pertanian di Indonesia.Berdasarkan data dari kementerian Perindustrian, Indonesia penghasil kopi ketiga terbesar di dunia setelah Brazil dan Vietnam. Kopi adalah minuman yang berasal dari biji kopi dan minuman yang mendunia dan terkadang banyak orang hanya melihat sisi negatife dari kopi padahal kopi memiliki sisi positif yang sangat menguntungkan. Secara umum masyarakat hanya tahu tentang kandungan yang terdapat pada kopi yaitu senyawa kafein. Selain senyawa kafein ada juga satu senyawa yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Sudah tahu kah tentang Senyawa Klorogenat atau Asam Klorogenat
`Asam Klorogenat merupakan senyawa kimia yang memiliki banyak manfaat bagi kesehtan tubuh yaitu asam yang berfungsi sebagai antioksidan dan menurunkan berat badan. asam klorogenat ini yang ada pada biji kopi berikatan dengan senyawa kafein. Asam Klorogenat juga mudah larut dalam suhu tinggi,etil asetat dan aseton. Asam klorogenat tersebut dapat untuk membakar timbunan lemak didalam tubuh kita, dan memperlambat pelepasan glukosa dari dalam aliran darah dan dapat untuk menurunkan resistensi insulin yang mencegah kenaikan berat badan. Menurut Erna Ciptianingsih magister ,menyatakan bahwa asam klorogenat merupakan metabolit terbesar yang terdapat pada biji kopi, saenyawa ester ini umumnya terbentuk dari asam quinat dan trans –asam sinamat. Telah diteliti bahwa dalam 200ml Kopi Arabika mengandung 70-200mg asam klorogenat dan pada Kopi Robusta mengandung 75-350mg asam klorogenat.
Tidak hanya sebagai obat yang dapat menurunkan berat badan , asam klorogenat juga berfungsi sebagai senyawa aktif yang mampu menghambat atau mematikan sel kanker hepatoseluler (Kanker Hati).Berdasarkan jurnal penelitian Pengaruh Asam Klorogenat Kopi Robusta Lampung Terhadap Ekspresi Cyclin D1 dan Caspase 3 pada Cell Lines Hep -G2.Asam klorogenat dihasilkan dari kopi melalui proses ekstraksi, fraksinasi dan isolasi, salah satu khasiatnya adalah berperan sebagai antioksidan eksogen yang berperan dalam mencegah kerusakan sel serta menghambat pertumbuhan sel kanker melalui pengikatan sejumlah radikal bebas.Peran asam klorogenat dalam menghambat pertumbuhan Cell Lines Hep-G2(sel kanker hepatoseluler) melalui reaksi oksidasi-reduksi dengan cara menangkap radikal bebas yang pada akhirnya menurunkan Reactive oxygen spesies (ROS).
Tak heran lagi kan dengan senyawa klorogenat atau asam klorogenat, ternyata asam ini memiliki banyak manfaat bagi dunia kesehatan dan ada lebih banyak kandungan senyawa ini pada kopi yang hijau dari pada kopi yang sudah disanghrai, karena jika sudah disanghrai kandungan asam klorogenat pada biji kopi berkurang. Bagi kamu yang tidak suka kopi tidak salah untuk mencoba meminum kopi karena kopi memiliki kandungan senyawa yang berguna bagi kesehatan dan memiliki banyak manfaat lainya,tetapi jika kamu minum itu juga disesuaikan dengan dosis jangan berlebihan sehingga ada manfaat nya bagi Tubuh dan kesehatan.

Partikel Bukan Tuhan

Yoga Trianzar Malik

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata ‘partikel tuhan’? Kata’partikel tuhan’ merupakan suatu istilah yang dapat dikatakan terlalu deskriptif untuk menggambarkan arti denotatif dari kata ‘partikel’ dan ‘tuhan’ itu sendiri. Tetapi, sebelum melangkah lebih jauh mengenal ‘partikel tuhan’, mari kita terbang kembali menelisik sejarah delapan ribu tahun lalu. Sejak puluhan abad silam, manusia mulai tenggelam dalam imaji dan berselimutkan tanya mengenai kehidupan dan proses penciptaan alam semesta serta seluruh isinya. Tentang bagaimana suatu objek biotik maupun abiotik tercipta, tentang bagaimana perasaan cinta begejolak dan apa yang membuatnya begitu. Lupakan tentang cinta dan kembali ke perjalanan sejarah pemikiran manusia tentang penciptaan.
Semenjak 500 tahun-an sebelum masehi, seorang filsuf yunani (Democritus namanya) telah memperkenalkan istilah partikel itu sendiri. Kebanyakan orang mengenal ‘partikel’ tersebut dengan sebutan atom (tidak dapat terbagi lagi). Dari istilah inilah, filsuf yunani tersebut mencetuskan bahwa setiap benda (kita sebut saja materi; segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang) di alam semesta ini tersusun atas bagian terkecil yang tidak dapat dibagi lagi disebut atom.
Apakah Teori Democritus sepenuhnya benar? Oh, belum tentu juga. Sekitar satu abad kemudian, Aristoteles menolak teori Democritus ini dan berpendapat bahwa materi bersifat kontinu dan dapat terus dibagi-bagi sampai tak behingga. Hal ini diperparah lagi dengan kepercayaan Aristoteles terhadap teori Empedokles bahwa materi tersusun atas air, api, tanah, dan udara seperti layaknya Avatar, The Last Air Bender. Namun begitu, teori dan kepercayaannya itu tidak sepatutnya dapat disalahkan. Kita akan buktikan nanti. Hal penting yang perlu diperhatikan ialah pernyataan Aristoteles bahwa materi bersifat kontinu.
Ratusan tahun berlalu, manusia masih saja berselimut tanya, bersenandung misteri tentang bagaimana materi itu tersusun. Baru sekitar tahun 1592 – 1655, seorang pemberani, filsuf prancis, Gasendi mengemukakan bahwa atom merupakan bagian terkecil suatu zat. Disusul 200 tahun kemudian, Dalton dengan teori bola pejalnya yang sangat terkenal menyatakan bahwa materi tersusun atas atom yang tidak dapat dibagi lagi. Barulah ilmuwan-ilmuwan bermunculan seperti teori roti kismis Thompson yang menendang jauh si bola pejal, dan juga penemuan inti atom yang bermuatan positif dan netral oleh Rutherford. Hingga saat itu, kiranya keraguan tentang pendapat Aritosteles sepertinya harus sedikit berpudar karena atom bukanlah partikel tunggal seperti apa yang Democritus tuduhkan. Akhirnya, Aristoteles bisa sedikit memanjakan dirinya.
Meskipun penemuan inti atom adalah peristiwa yang sangat fenomenal, para ilmuwan terlihat masih mengerutkan dahinya pertanda ketidakpuasan tergambar di raut wajah mereka. Terlebih penemuan-penemuan teori yang berkaitan dengan atom selanjutnya hanya berpusat pada aktivitas dan perilaku elektron saja, seperti penggambaran orbit oleh Niels Bohr dan penjabaran teori desktiptif mengenai awan elektron tempat kebolehjadian ditemukannya elektron yang dikenal juga dengan istilah orbital dalam teori mekanika kuantum.
Semenjak penemuan orbital yang paling fenomenal, tepat sekitar 200 tahun setelah bola pejal menggelinding jatuh, barulah Ilmuwan memulai revolusi teori atom, perpindahan masa fisika klasik menuju kemodernan terutama setelah Einstein (one of my favorite physics character) menemukan teori relativitas. Dari sinilah seolah-olah ilmuwan dari seluruh penjuru dunia kehausan darah, berlomba-lomba memamerkan teori mengenai penciptaan alam semesta yang bermodalkan teori orbital. Kita mengenal ilmuwan seperti Dirac, Feynmann, Schrodinger, Born, Higgs, Bose, Hidekawa, Hawking,dll. Nama-nama inilah merupakan tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan ilmu fisika modern yang mengupas keberadaan partikel elementer penyusun atom yang dikenal dengan sebutan ‘Model Standar’ atau Standard Model hingga saat ini.
Sebenarnya, beberapa ilmuwan masih ingin membuktikan kebenaran ucapan Aristoteles tentang kekontinuan partikel, sebelum kemudian tersusun model standar ini. Model standar sendiri tidak tersusun sedemikian rupa secara serta merta. Awalnya, para ilmuwan terlebih dahulu menemukan partikel baru yang dinamai foton, suatu partikel dasar dengan gaya elektromagnetik pada quark dan lepton. Kemudian, meson, antipartikel dan neutrino, serta model strange di dekade-dekade berikutnya. Hingga tahun 1964, yang merupakan titik puncak pencapaian model standar, dengan penemuan Higgs Boson, partikel yang dielu-elukan sebagai partikel tuhan. Akhirnya kita semakin dekat.
Perlu diketahui bahwa semenjak tahun 1960 hingga 1970-an, atau lebih tepatnya 1964, manusia dikejutkan dengan pemodelan standar ini, penobatan partikel terkecil untuk proton, elektron, dan neutron harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri-ke-fisika-an dan pri-ke-partikel-an. Maksudnya ialah baik proton, neutron, maupun elektron, ketiganya merupakan partikel subatomik yang tersusun dari partikel yang lebih kecil lagi. Seperti quark, partikel penyusun proton dan neutron dan lepton, partikel penyusun elektron. Hal ini diperkuat setelah diciptakannya detektor partikel seperti Geiger counters, cloud chambers, bubble chambers, spark chambers, drift chambers, photographic emulsions, Cerenkov counters, scintillators, photomultipliers, dan sebagainya. Dengan begitu, perlahan Teori Aristoteles ada benarnya juga. Namun, ini belum dapat disimpulkan begitu saja. Kita masih belum membahas partikel tuhan itu sendiri.
Berbeda dari kebanyakan partikel lainnya, Higgs Boson, partikel yang dinamai dari Peter Higgs dan Nath Bose, merupakan partikel yang memiliki peran yang unik dalam standar model. Keberadaannya dapat menjelaskan mengapa partikel elementer lainnya, kecuali foton dan gluon, begitu massif. Secara khusus, Higgs Boson menjelaskan mengapa foton tidak memiliki massa sementara, boson W dan Z, begitu berat. Higgs Boson pada dasarnya adalah sebuah partikel yang hilang dalam model standar fisika partikel. Model standar fisika partikel sebenarnya terbagi atas dua kelompok, yakni fermion dan boson. Fermion memiliki spin pecahan, sementara boson memiliki spin bilangan bulat. Meskipun cukup sulit memahami partikel dasar pada model standar ini, hal penting yang perlu digarisbawahi ialah model standar ini merupakan karya artistik terjenius yang pernah ditemukan manusia yang setidaknya dapat menjelaskan bahwa atom tidak hanya tersusun atas proton, neutron, dan, elektron saja.
Meskipun Higgs boson memiliki peran yang unik dalam model standar, keberadaannya masih menjadi teori dan misteri hingga tahun 2010 lalu, yaitu setelah dimulainya percobaan menggunakan particle acceletor yaitu Large Hadron Collider (LHC) di CERN dan dipertunjukkan di Fermilab’s Tevatron hingga akhir penutupannya di tahun 2011. Higgs Boson pertama kali dicetuskan oleh beberapa ilmuwan seperti Robert Brout, François Englert, Gerald Guralnik, C. R. Hagen, Tom Kibble terutama Peter Higgs. Percobaan pada tahun 2010-2011 masih dapat disebutkan sebagai tahap peramalan keberadaan partikel Higgs Boson itu sendiri, sebab massa partikel ini masih belum diketahui. Baru kemudian pada tahun 2012, dua jenis percobaan yang menghasilkan penemuan partikel baru dengan massa 125 GeV/c2 yang konsisten dengan partikel Higgs Boson. Akhirnya, pada bulan Maret tahun 2013, keberadaan partikel Higgs Boson ini sementara dapat dikonfirmasi keberadaannya. Pada dasarnya, Higgs Boson dapat menjelaskan mengapa semua partikel memiiki massa. Tanpa Higgs Boson, kita tak akan bermassa. Semuanya tidak akan memiliki massa. Itulah mengapa kebanyakan ilmuwan menyebut Higgs Boson sebagai ‘Partikel Tuhan’.
Penemuan partikel tuhan ini menjadi penemuan paling fenomenal dan paling jenius abad ini. Kendati demikian, tidak sedikit ilmuwan yang meragukan penemuan partikel Higgs Boson. Salah satunya seperti yang dilansir oleh situs National Geographic Indonesia. Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Mads Tourdal Frandsen dari Pusat Studi Kosmologi dan Fenomenologi Fisika Partikel, Denmark, di jurnal Physical Review D berpotensi menggoyahkan hasil temuan CERN.
“Data dari eksperimen LHC (Large Hadron Collider) dipastikan konsisten dengan Higgs, bagaimana diproduksi dan meluruh, serta spin partikelnya. Namun, seperti dalam publikasi, itu mungkin bukan satu-satunya penjelasan,” kata Michael Tuts dari Columbia University.
Frandsen mengatakan, partikel yang ditemukan CERN sebenarnya adalah techni-higgs. Berbeda dengan Higgs boson, techni-higgs bukan partikel elementer. Partikel itu terdiri dari partikel elementer yang disebut techni-quarks.

Selanjutnya, keputusan untuk mempercayai kebenaran ini diserahkan kepada hasil analisis, dan pendapat individu. Tidak ada paksaan untuk mengasumsikan keberadaan partikel tuhan itu benar atau sekedar bualan, yang pasti di sini ialah ‘kemungkinan besar pendapat Aritosteles itu benar bahwa materi bersifat kontinu dan dapat terus dibagi sampai tak berhingga’. Bisa saja nanti ditemukan partikel-partikel yang lebih mutahir dan canggih serta lebih jenius dari sekedar penemuan partikel tuhan itu sendiri seperti quatron mungkin, sejenis partikel terkuat yang pernah ada karena benar-benar partikel yang tidak dapat dibagi lagi dan bersifat tunggal.

Sumber:
Griffiths, D. 2008. The Introduction to Elementary Particles Second Edition. John Willey&Sons, Inc, Weinheim
Gritsan, A. 2014. What is the Higgs Boson? Why do some call it the ”God Particle”? Diambil dari: http://www.pha.jhu.edu/~gritsan/talks/talk_jhu_Aug2014.pdf
Lederman, L. 1993. THE GOD PARTICLE: If the Universe Is the Answer, What Is the Question?. Dell Publishing, New York.
Wiji, Y. 2014. Penemuan Partikel Tuhan Dibantah. Diambil dari: http://nationalgeographic.co.id/berita /2014/11/penemuan-partikel-tuhan-dibantah

Menengok Kondisi Iklim Peneliti di Indonesia (IRON HIMAKA)

Author: Elsyafahriza Risky
Jurusan Kimia UNPAD 2015

Menengok Kondisi Iklim Peneliti di Indonesia
Sejatinya ilmu pengetahuan tidak akan pernah absen dalam upaya memberikan manfaatnya pada seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Seolah ilmu pengetahuan adalah alat penerang yang mampu menerangi misteri yang sulit dijelaskan dengan logika. Ilmu pengetahuan sangat erat kaitannya dengan aktifitas penelitian, sehingga antara ilmu pengetahuan dan penelitian tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebab, ilmu pengetahuan lahir dari sebuah penelitian. Hal tersebut, yang membuat ilmu pengetahuan dapat memberikan manfaatnya. Menengok kondisi iklim penelitian di Indonesia diakui atau tidak terbilang memprihatinkan. Aktifitas penelitian dinilai masih amat terbatas. Kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) juga masih tertinggal jauh dari negara-negara maju lainnya.
Berdasarkan peringkat riset, negara Indonesia di dunia dalam sebuah portal yang menghitung data penelitian berdasarkan publikasi ilmiah yang terekam di basis data Scopus yaitu Scimago. Menurut portal tersebut, jumlah penelitian yang terekam dalam kurun waktu pada tahun 1996 sampai 2014, tercatat ada 32.355 publikasi ilmiah Indonesia yang dihasilkan. Dengan angka tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-57 dari total 239 negara yang terdaftar di Scimago, dan Amerika Serikat berada di peringkat teratas dengan jumlah 8.626.193 publikasi ilmiah. Selain itu jumlah karya penelitian Indonesia tersebut juga kalah jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Singapura dengan jumlah publikasi ilmiahnya sebanyak 192.942 dan berada di peringkat ke-32, Malaysia sebanyak 153.378 dengan peringkat ke-36 dan Thailand sebanyak 109.832 dengan peringkat ke-43. Jika Indonesia tidak meningkatkan daya produksi penelitian, bukan hal yang tidak mungkin Indonesia akan disalip oleh Vietnam dalam kurun waktu yang sama telah menghasilkan 24.473 publikasi ilmiah dengan peringkat ke-66. Beberapa faktor penghambat produktifitas penelitian di Indonesia masih memiliki berbagai masalah tentang pelaksanaan riset itu sendiri. Masalah-masalah yang ada cukup mendesak untuk diselesaikan, hal tersebut akan memengaruhi kualitas, penerapan, serta output dari riset yang Indonesia miliki. (Mahardika Y, 2016)
Indonesia akan sulit berkembang dan bersaing dengan negara lain jika tidak didukung dengan ketersediaan jumlah peneliti. Sedikitnya jumlah peneliti di Indonesia menjadi salah satu penyebab kurang berkembangnya dunia riset di tanah air. Padahal majunya sebuah negara sangat bergantung pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan hanya pemanfaatan iptek semata. Oleh karena itu, jika Indonesia ingin menjadi negara maju maka jumlah peneliti harus ditingkatkan.
Sayangnya atmosfer penelitian di Indonesia masih mengalami krisis khususnya di kalangan kaum muda. Karena semangat menelitinya masih terbilang sangat minim. Kurangnya kesadaran dan minat kearah penelitian sangat memicu kemunduran penelitian di Indonesia. Menurut Koran Jakarta edisi 6 Desember 2009, dari 130 ribu jenis tumbuhan paku-pakuan yang ada di Indonesia, jumlah peneliti yang fokus mempelajarinya kurang dari 10 orang, dan saat ini peneliti di Indonesia masih pada komposisi satu peneliti per 10.000 penduduk.
Selain itu fisikawan Pakistan peraih hadiah Nobel almarhum Abdus Salam pernah mengatakan bahwa salah satu kelemahan peneliti di negara-negara berkembang adalah kurangnya ambisi untuk menguasai sains dan teknologi. Hal ini mungkin disebabkan oleh latar belakang budaya serta kurangnya wawasan sains dari para pemimpinnya.
Faktor lain yang juga kurang mendukung adalah minimnya wawasan sains dari para pemimpin republik ini. Tidak pernah terdengar gagasan cemerlang dari para pemimpin bahwa investasi di bidang ilmu dasar merupakan tabungan masa depan yang sangat berharga. Para pemimpin juga berpikir instan, untuk apa membiayai penelitian yang mengawang-awang dan tidak membumi namun membutuhkan biaya mahal. Ada pula anggapan bahwa penelitian ilmu dasar tidak mendukung pembangunan nasional karena saat ini tidak dibutuhkan rakyat dan penelitian ilmu dasar seharusnya digali dari tradisi dan kejayaan bangsa di masa lalu. Semua hal tersebut menunjukkan kurangnya wawasan sains dari para pemimpin republik ini.
Alasan klasik lainnya adalah tak terlalu banyak mahasiswa yang memilih peneliti sebagai profesi mereka di kemudian hari. Rata-rata menganggap profesi peneliti terlalu kaku atau serius. Bahkan ada yang beranggapan bahwa menjadi peneliti tidak bisa dijadikan sandaran hidup dari sisi penghasilan.
Menurut Ahmad Ciptadi, selama ini peneliti Indonesia kekurangan dana baik untuk penelitian maupun untuk biaya hidupnya memang telah menjadi semacam alasan untuk tidak melakukan riset. Meski di satu sisi anggapan ini dapat dibenarkan, namun disisi lain anggapan ini dapat menjadi ancaman. Untuk dapat melakukan penelitian, bukan hanya biaya yang diperlukan. Kemampuan sang peneliti serta lingkungannya merupakan faktor yang sangat menentukan. Jika dana ada namun sang peneliti tidak mampu melakukan penelitian sendiri (karena selalu dibimbing oleh peneliti senior atau mantan Profesornya) tentu saja penelitian tidak akan berjalan. Jika lingkungan tidak menghargai penelitian atau peraturan yang ada tidak memaksa peneliti untuk melakukan penelitian, maka si peneliti akan kehilangan motivasi. Dengan kondisi yang ada saat ini, tampaknya bukan hanya uang yang menjadi masalah penelitian di Indonesia. Sudah saatnya kita menata ulang manajemen riset di Indonesia.
Sebab dunia riset Indonesia masih membutuhkan tunas-tunas harapan bangsa agar tidak tertinggal dengan negara lain. Memang penelitian yang dikerjakan tidak ada gunanya untuk pengetasan kemiskinan namun bukankah penelitian merupakan investasi jangka panjang yang sangat bermanfaat? Sebab penelitian selain bertujan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan juga bertujuan sebagai upaya pembangunan untuk meningkatkan kemajuan bangsa dengan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya, sebab hingga saat ini ilmu pengetahuan dipercaya sebagai tulang punggung negara maju untuk memenangkan persaingan, baik ekonomi maupun politik.
So, masih mau jadi bangsa yang statis? Tidak ada alasan lagi bukan, saatnya menumbuhkan semangat meneliti, Indonesia harus mengejar ketertinggalan. Sekarang juga!

Biodata Penulis

Nama Lengkap: Elsyafahriza Risky
Tempat, tanggal lahir: Sukabumi, 17 Juli 1997
Alamat Kost: Pondok Putri Jawara Merah Hegarmanah
No HP: 085871141177
Prodi: Kimia Universitas Padjdjaran angkatan 2015
Hobby: Membaca dan Menulis
Motto Hidup: Menjemput ridho Allah bersama Allah