Menengok Kondisi Iklim Peneliti di Indonesia (IRON HIMAKA)

Author: Elsyafahriza Risky
Jurusan Kimia UNPAD 2015

Menengok Kondisi Iklim Peneliti di Indonesia
Sejatinya ilmu pengetahuan tidak akan pernah absen dalam upaya memberikan manfaatnya pada seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Seolah ilmu pengetahuan adalah alat penerang yang mampu menerangi misteri yang sulit dijelaskan dengan logika. Ilmu pengetahuan sangat erat kaitannya dengan aktifitas penelitian, sehingga antara ilmu pengetahuan dan penelitian tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebab, ilmu pengetahuan lahir dari sebuah penelitian. Hal tersebut, yang membuat ilmu pengetahuan dapat memberikan manfaatnya. Menengok kondisi iklim penelitian di Indonesia diakui atau tidak terbilang memprihatinkan. Aktifitas penelitian dinilai masih amat terbatas. Kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) juga masih tertinggal jauh dari negara-negara maju lainnya.
Berdasarkan peringkat riset, negara Indonesia di dunia dalam sebuah portal yang menghitung data penelitian berdasarkan publikasi ilmiah yang terekam di basis data Scopus yaitu Scimago. Menurut portal tersebut, jumlah penelitian yang terekam dalam kurun waktu pada tahun 1996 sampai 2014, tercatat ada 32.355 publikasi ilmiah Indonesia yang dihasilkan. Dengan angka tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-57 dari total 239 negara yang terdaftar di Scimago, dan Amerika Serikat berada di peringkat teratas dengan jumlah 8.626.193 publikasi ilmiah. Selain itu jumlah karya penelitian Indonesia tersebut juga kalah jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Singapura dengan jumlah publikasi ilmiahnya sebanyak 192.942 dan berada di peringkat ke-32, Malaysia sebanyak 153.378 dengan peringkat ke-36 dan Thailand sebanyak 109.832 dengan peringkat ke-43. Jika Indonesia tidak meningkatkan daya produksi penelitian, bukan hal yang tidak mungkin Indonesia akan disalip oleh Vietnam dalam kurun waktu yang sama telah menghasilkan 24.473 publikasi ilmiah dengan peringkat ke-66. Beberapa faktor penghambat produktifitas penelitian di Indonesia masih memiliki berbagai masalah tentang pelaksanaan riset itu sendiri. Masalah-masalah yang ada cukup mendesak untuk diselesaikan, hal tersebut akan memengaruhi kualitas, penerapan, serta output dari riset yang Indonesia miliki. (Mahardika Y, 2016)
Indonesia akan sulit berkembang dan bersaing dengan negara lain jika tidak didukung dengan ketersediaan jumlah peneliti. Sedikitnya jumlah peneliti di Indonesia menjadi salah satu penyebab kurang berkembangnya dunia riset di tanah air. Padahal majunya sebuah negara sangat bergantung pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan hanya pemanfaatan iptek semata. Oleh karena itu, jika Indonesia ingin menjadi negara maju maka jumlah peneliti harus ditingkatkan.
Sayangnya atmosfer penelitian di Indonesia masih mengalami krisis khususnya di kalangan kaum muda. Karena semangat menelitinya masih terbilang sangat minim. Kurangnya kesadaran dan minat kearah penelitian sangat memicu kemunduran penelitian di Indonesia. Menurut Koran Jakarta edisi 6 Desember 2009, dari 130 ribu jenis tumbuhan paku-pakuan yang ada di Indonesia, jumlah peneliti yang fokus mempelajarinya kurang dari 10 orang, dan saat ini peneliti di Indonesia masih pada komposisi satu peneliti per 10.000 penduduk.
Selain itu fisikawan Pakistan peraih hadiah Nobel almarhum Abdus Salam pernah mengatakan bahwa salah satu kelemahan peneliti di negara-negara berkembang adalah kurangnya ambisi untuk menguasai sains dan teknologi. Hal ini mungkin disebabkan oleh latar belakang budaya serta kurangnya wawasan sains dari para pemimpinnya.
Faktor lain yang juga kurang mendukung adalah minimnya wawasan sains dari para pemimpin republik ini. Tidak pernah terdengar gagasan cemerlang dari para pemimpin bahwa investasi di bidang ilmu dasar merupakan tabungan masa depan yang sangat berharga. Para pemimpin juga berpikir instan, untuk apa membiayai penelitian yang mengawang-awang dan tidak membumi namun membutuhkan biaya mahal. Ada pula anggapan bahwa penelitian ilmu dasar tidak mendukung pembangunan nasional karena saat ini tidak dibutuhkan rakyat dan penelitian ilmu dasar seharusnya digali dari tradisi dan kejayaan bangsa di masa lalu. Semua hal tersebut menunjukkan kurangnya wawasan sains dari para pemimpin republik ini.
Alasan klasik lainnya adalah tak terlalu banyak mahasiswa yang memilih peneliti sebagai profesi mereka di kemudian hari. Rata-rata menganggap profesi peneliti terlalu kaku atau serius. Bahkan ada yang beranggapan bahwa menjadi peneliti tidak bisa dijadikan sandaran hidup dari sisi penghasilan.
Menurut Ahmad Ciptadi, selama ini peneliti Indonesia kekurangan dana baik untuk penelitian maupun untuk biaya hidupnya memang telah menjadi semacam alasan untuk tidak melakukan riset. Meski di satu sisi anggapan ini dapat dibenarkan, namun disisi lain anggapan ini dapat menjadi ancaman. Untuk dapat melakukan penelitian, bukan hanya biaya yang diperlukan. Kemampuan sang peneliti serta lingkungannya merupakan faktor yang sangat menentukan. Jika dana ada namun sang peneliti tidak mampu melakukan penelitian sendiri (karena selalu dibimbing oleh peneliti senior atau mantan Profesornya) tentu saja penelitian tidak akan berjalan. Jika lingkungan tidak menghargai penelitian atau peraturan yang ada tidak memaksa peneliti untuk melakukan penelitian, maka si peneliti akan kehilangan motivasi. Dengan kondisi yang ada saat ini, tampaknya bukan hanya uang yang menjadi masalah penelitian di Indonesia. Sudah saatnya kita menata ulang manajemen riset di Indonesia.
Sebab dunia riset Indonesia masih membutuhkan tunas-tunas harapan bangsa agar tidak tertinggal dengan negara lain. Memang penelitian yang dikerjakan tidak ada gunanya untuk pengetasan kemiskinan namun bukankah penelitian merupakan investasi jangka panjang yang sangat bermanfaat? Sebab penelitian selain bertujan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan juga bertujuan sebagai upaya pembangunan untuk meningkatkan kemajuan bangsa dengan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya, sebab hingga saat ini ilmu pengetahuan dipercaya sebagai tulang punggung negara maju untuk memenangkan persaingan, baik ekonomi maupun politik.
So, masih mau jadi bangsa yang statis? Tidak ada alasan lagi bukan, saatnya menumbuhkan semangat meneliti, Indonesia harus mengejar ketertinggalan. Sekarang juga!

Biodata Penulis

Nama Lengkap: Elsyafahriza Risky
Tempat, tanggal lahir: Sukabumi, 17 Juli 1997
Alamat Kost: Pondok Putri Jawara Merah Hegarmanah
No HP: 085871141177
Prodi: Kimia Universitas Padjdjaran angkatan 2015
Hobby: Membaca dan Menulis
Motto Hidup: Menjemput ridho Allah bersama Allah