Yuk Kenalan dengan ADI ! (IRON HIMAKA)

Oleh: Fahmy Nur Hakim – 140210140086

Untuk melangsungkan kehidupannya makhluk hidup perlu asupan nutrisi dari luar, karena nyatanya ada zat-zat tertentu yang tidak dapat diproduksi tubuh. Begitu pun manusia, makan adalah salah satu usaha untuk tetap mempertahankan kehidupan kita. Makan yang baik bukan hanya memuaskan nafsu semata. Makanan berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan tentu selalu diprioritaskan.
Hal yang penting untuk diperhatikan adalah mengenai bahan-bahan yang sengaja ditambahkan kedalam bahan makanan untuk memperoleh sifat tertentu yang biasa disebut food additive. Food additive bisa berupa bahan alam ataupun bahan sintetis(buatan). Layaknya hukum alam, segala hal ada manfaat dan bahayanya, begitu pun aditif makanan.
Bahan alam relatif tidak terlalu memberikan efek buruk bagi penggunanya, sedikit berbeda halnya dengan bahan-bahan sintetis yang kebanyakan orang menyebutnya bahan kimia. Sebutan itu tidak selamanya tepat, karena zat kimia bukan hanya terdapat dalam bahan sintetis, bahan alam pun tentu saja mengandung senyawa-senyawa kimia.
Bahan sintetis ini tentu tidak bisa digunakan sembarangan. Ada aturan-aturan tertentu yang mengacu pada kesehatan manusia. Jika kita perhatikan dalam kemasan produk makanan atau minuman yang mengandung food additive, pada bagian komposisi terdapat keterangan ADI : x mg/kg berat badan.
Menurut WHO dalam buku Bahaya Bahan Kimia pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan, ADI (Acceptable Daily Intake) atau asupan harian yang dapat diterima adalah taksiran terhadap jumlah substansi dalam makanan atau air minum, dinyatakan per berat badan tubuh, yang dapat dikonsumsi setiap hari disepanjang kehidupan seseorang tanpa menimbulkan risiko kesehatan yang cukup besar. Sederhananya bisa dibilang batas konsumsi aman.
Misal dalam komposisi produk tercantum zat Na-X(ADI : 2,5 mg/kg), maka untuk orang yang berbobot 50 kg batas konsumsi yang diperbolehkan adalah 50 kali nilai ADI atau 125 mg dalam satu hari. Untuk orang dengan bobot yang lebih kecil tentu akan lebih kecil pula nilainya. Itulah mengapa adik-adik kita yang masih balita dan anak-anak dianjurkan untuk tidak jajan makanan atau minuman yang mengandung zat-zat aditif, karena batas konsumsi mereka sangat kecil. Untuk membuatnya tetap aman maka tidak seharusnya mereka menghabiskan satu kemasan utuh. Tapi apakah mungkin kita memperbolehkan mengkonsumsi setengahnya atau seperempatnya lalu kita menyuruh membuang sisanya?
Akan tetapi, tidak semua produsen bersedia mencantumkan ADI dari zat-zat tambahan yang mereka gunakan. Tak jarang kita hanya menemukan jenis zat-nya saja. Sebenarnya itu bisa diatasi dengan aktif mencari informasi. Yang lebih ditakutkan adalah jika nama zat tambahan yang sebenarnya dipakai tidak tercantum dalam daftar komposisi.
Selain ADI ada juga TDI (Tolerance Daily Intake) atau asupan yang dapat ditoleransi. Karena mereka saudaraan jadi artinya juga hampir sama. Perbedaanya ADI digunakan untuk bahan-bahan yang tujuan penggunaannya punya maksud tertentu alias punya manfaat, sedangkan TDI digunakan untuk bahan-bahan yang kehadirannya bersifat kontaminasi atau tidak bermanfaat.
ADI dan TDI ini dilahirkan oleh para peneliti guna menjaga interaksi tubuh manusia dengan bahan-bahan kimia tetap aman. Perlu diketahui efek penggunaan aditif sintetis dalam makanan/minuman ini bersifat jangka panjang, berbeda dengan efek cemaran makanan berupa virus atau bakteri yang dapat terlihat dalam waktu dekat. Jadi, hati-hati dengan yang cicing-cicing tapi ngeleyed !
Gimana sekarang sudah lumayan kenal dengan ADI dan saudaranya kan? Selanjutnya si ADI dan TDI ini harus tetap kita perhatikan supaya makanan/minuman yang kita konsumsi aman dan bermanfaat bagi kehidupan kita.
Referensi :
WHO, Bahaya Bahan Kimia pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan (Alih bahasa, Palupi Widyastuti, Jakarta : EGC, 2006 )
Pernah dimuat di harian Pikiran Rakyat Selasa, 20 Mei 2014